Jum'at,31 Oktober 2014
 

Link
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
PERATURAN
 
Petunjuk Pelaksanaan
 
Buku Teknologi
 
KUMPULAN MATERI PENAS KE 14 TAHUN 2014

 

KUMPULAN MATERI  TEMU TEKNOLOGI DAN DIALOG NASIONAL (KLIK DISINI)


RUMUSAN KONSOLIDASI AUDIT FEATI III 2009 PDF Print E-mail
Written by bbp2tp   
Wednesday, 02 December 2009

RUMUSAN KONSOLIDASI AUDIT FEATI  III 2009

CISARUA, 9-11 NOVEMBER 2009 

I.        UMUM  

  1. Secara umum kegiatan konsolidasi audit telah berjalan dengan baik dan menghasilkan luaran seperti yang diharapkan. Dalam diskusi evaluasi kegiatan dan usulan untuk kegiatan konsolidasi audit ke depan, para peserta berharap agar setiap PPK propinsi diberi kesempatan memaparkan apa yang telah dilakukan dan capaiannya selama tiga bulan, dengan membuat analisis pencapaian target sesuai indikator yang telah disepakati. Hal tersebut akan diakomodir pada konsolidasi audit berikutnya, dan pemaparan akan dibagi atas  tiga wilayah pengembangan, yaitu Barat (Sumut, Sumbar, Sumsel, Jambi, Kalsel dan Kalbar),  Tengah (Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim dan NTB) serta Timur (Sulut, Sulteng, Sultra, Sulsel, Gorontalo dan NTT).  Pembahasan setiap propinsi dilakukan secara mendalam dan menghasilkan saran-saran konkrit seperti strategi dalam pencapaian target.
 
  1. Rendahnya penyerapan dana dari tahun ke tahun disebabkan berbagai persoalan, diantaranya persoalan administrasi (Jabar) total  dana untuk satu kali penarikan hanya bisa Rp. 38 juta, dan ini menyulitkan percepatan kegiatan di lapangan. Selain itu alokasi dana belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan kegiatan. BPTP diharapkan melakukan evaluasi penggunaan dana sampai saat ini, dan melihat secara baik apa persoalan yang menyebabkan rendahnya penyerapan. Ini akan jadi acuan dalam perencanaan kegiatan dan alokasi dana berikutnya. BBP2TP perlu sejak awal menginformasikan lokasi konsolidasi audit sehingga perencanaan dana untuk kegiatan ini dapat lebih akurat.
 
  1. Terkait dengan pengembangan kegiatan di tingkat FMA, dari berbagai diskusi terlihat bahwa kegiatan ini perlu dilihat lagi secara keseluruhan, dengan melihat apa yang dilaksanakan dinas teknis di lokasi kegiatan, terutama yang terkait dengan berbagai program strategis Departemen Pertanian yang dilaksanakan Dinas. Para peserta melihat bahwa sulit diharapkan adanya pengembangan kegiatan agribisnis di tingkat FMA, selama kegiatan ini tidak melibatkan Dinas Teknis terkait, atau dengan kata lain bahwa pengembangan agribisnis tidak cukup hanya melalui upaya pemberdayaan penyuluh dan kelompok FMA, namun juga harus terkait dengan program dinas setempat.
 
  1. Pengembangan agribisnis membutuhkan perencanaan jangka panjang dan sinergi berbagai pihak terkait, untuk itu perlu dilihat lagi proses perencanaan kegiatan di tingkat FMA dan sinergi antar komponen dalam FEATI mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah. Sebagai contoh perencanaan pengembangan sarana komunikasi melalui komponen D diharapkan dapat sinkron dengan pengembangan yang dilakukan komponen C. Karena sulitnya konsolidasi secara bersama perlu dicari metoda yang memungkinkan adanya koordinasi perencanaan antar semua komponen pada berbagai level (Pusat, Propinsi dan Kabupaten).
 
  1. Dari evaluasi sendiri yang dilakukan BPTP terhadap pencapaian target kegiatan, sesuai indikator komponen C sampai tahun 2009 (30% petani terlibat dalam kajian yang dilakukan BPTP atau memanfaatkan inovasi BPTP dan 5% anggaran BPTP berasal dari non goverment budget), pencapaian umumnya masih dibawah target yang diharapkan. Penyebab utama adalah belum tuntasnya perencanaan kegiatan di tingkat FMA sehingga BPTP belum dapat mewarnai kegiatan FMA. Selain itu beberapa kegiatan BPTP belum secara baik di hubungkan dengan kegiatan di tingkat FMA.
 
  1. Perlu dilakukan updating terhadap penetapan target,  terutama yang terkait dengan peningkatan produktivitas, karena dampak dari penerapan teknologi bukan hanya pada peningkatan produktivitas namun teknologi bisa saja dapat menurunkan ongkos produksi, atau bisa juga teknologi berdampak pada peningkatan pendapatan, misalnya teknologi mengenai pasca panen atau pengolahan hasil. Untuk mendukung pencapaian target ke depan perlu ada perbaikan komposisi pembiayaan dan juga sub komponen kegiatan. Dari sisi pembiayaan yang perlu diperbesar adalah pendampingan FMA, perbanyakan publikasi dan pengadaan dana monev tersendiri. BPTP diharapkan dapat mengusulkan perbaikan struktur pembiayaan dan komponen kegiatan.
 
  1. Pelaksanaan demplot FSA dan ARF perlu dilakukan dalam skala yang lebih luas, sehingga dampak kegiatan ini bisa dirasakan  oleh banyak pihak dan Dinas juga merasa didukung dengan adanya demplot ini. Pengembangan FMA kabupaten diharapkan dapat diarahkan dalam upaya membangun jejaring kerja antar FMA desa dan ini menjadi semacam scaling up kegiatan dalam satuan wilayah yang lebih luas.
   II.      WORKSHOP DAN PRESENTASI BPTP A.     Keterkaitan FSA, ARF dan FMA 
  1. Dari paparan para pemakalah dalam workshop, telah membuka wawasan para peserta tentang peluang pengembangan kegiatan agribisnis di level petani. Nampaknya peluang terbesar ada pada pengolahan hasil dan pemanfaatan by product dari kegiatan usahatani. Kegiatan workshop juga membuka pemahaman peserta tentang pola pendampingan ideal yang perlu dikembangkan di tingkat GAPOKTAN atau POKTAN.
 
  1. FSA merupakan suatu metoda untuk membantu petani FMA mengidentifikasi teknologi yang diperlukan guna menunjang usahatani yang berorientasi pasar. Kegiatan FSA diawali dengan lokakarya FSA dan dilanjutkan dengan melakukan analisa peluang usahatani dalam satu wilayah agroekosistem menggunakan pendekatan PRA. Analisa usahatani ini mencakup aspek usahatani yang sudah tersedia, lingkungan biofisik, sosial ekonomi, keadaan usahatani, dan kelembagaan.
 
  1. Keluaran dari studi FSA yaitu model sistem usahatani berorientasi pasar. Informasi usahatani ini dapat digunakan penyuluh untuk menyusun programa desa. Berbagai kegiatan lokakarya dilakukan oleh BPTP dengan memperkenalkan teknologi pertanian bertujuan untuk meningkatkan hubungan harmonis antara peneliti, penyuluh dan petani. Teknologi yang digelar pada demplot dapat dimanfaatkan penyuluh pendamping dan penyuluh swadaya sebagai bahan penyuluhan desa, penyusunan proposal FMA, dan lain-lain.
 
  1. Apabila dalam proposal yang diajukan FMA diketahui teknologi yang akan diterapkan belum diketahui petani maka  perlu dirancang suatu uji coba oleh petani (ARF). Apabila teknologi yang dimaksud sudah diketahui atau dikuasai petani maka tidak perlu dilakukan uji coba oleh petani (ARF).
      
  1. Perbedaan antara demplot sebagai kelanjutan FSA dengan ujicoba ARF yaitu pada tingkat keterlibatan BPTP dan FMA. Pada demplot FSA, seluruh biaya dan pengelolaan demonstrasi disediakan dan dilakukan oleh pengkaji BPTP (peran pengkaji BPTP lebih besar dibanding FMA). Pada ujicoba ARF, kegiatan dibiayai dan dikelola oleh petani FMA, BPTP hanya menyediakan bahan pengujian terbatas (peran petani FMA lebih besar dibanding pengkaji BPTP).
 
  1. ARF merupakan media pembelajaran teknologi bagi petani. Dalam pelaksanaannya petani dibimbing oleh pengkaji dan penyuluh. Alur keterkaitan FSA – ARF – FMA akan terkendala oleh beberapa hal berikut: a)     FSA sudah dilaksanakan dan beberapa teknologi sudah diidentifikasi tapi demplot belum bisa dilakukan karena FMA belum terbentuk.b)     Kegiatan ARF ditunda atau ditiadakan apabila proposal FMA belum disetujui.     
  2. Kegiatan-kegiatan workshop, baik yang melibatkan Pengkaji-Penyuluh-Petani maupun Pengkaji-Petani memanfaatkan FSA, dan ARF sebagai materi workshop. Ini berarti bahwa workshop itu sendiri memiliki peran sebagai strategi dalam mendukung FMA.
  3. Sebagai strategi yang mendukung FMA, FSA dan ARF  perlu difahami dengan baik, agar tidak terjebak dalam pemahaman yang sempit. FSA dan ARF telah dsisepakati di pertemuan konsolidasi Solo, sebagai berikut:
  4. a)     FSA merupakan kegiatan identifikasi masalah, potensi, dan peluang dalam satu wilayah agroekosistem tertentu dengan pendekatan PRA yang didahului oleh lokakarya FSA.
  5. b)     FSA menghasilkan model-model usahatani yang berorientasi pasar (kepastian harga, pengembangan kerja sama dengan swasta, keberlanjutan usaha/VCA).
  6. c)      ARF merupakan media pembelajaran teknologi bagi petani bersama dengan pengkaji dan penyuluh. d)     Kriteria teknologi untuk kegiatan ARF: (1) teknologi dibutuhkan petani, (2) teknologi belum dikenal oleh petani, pengkaji, penyuluh lapangan di wilayah setempat, dan (3) memiliki daya ungkit tinggi. 
  7. B.    Penyediaan Materi Diseminasi 
  8. 1.      Berbagai masalah  dalam pengadaan materi diseminasi  dalam program FEATI  selama ini dapat dibagi ke dalam tiga kelompok:a)     Substansi (isi) pesan yang kurang sesuai dengan kebutuhan petani.b)     Bahasa yang digunakan  kurang dipahami petani dan/atau format kemasan pesan yang tidak mudah untuk diakses petani.c)      Koordinasi yang lemah sehinga pesan diseminasi tidak tersalurkan secara lancar kepada petani. 
  9. 2.      Setiap BPTP perlu membangun komunikasi timbal-balik dengan semua pihak berkompeten untuk:
  10. a)     menetapkan substansi pesan diseminasi yang relevan dengan kebutuhan petani,
  11. b)     mengemas pesan-pesan diseminasi dalam format yang paling mudah diakses dan dipahami petani,
  12. c)      saling menyelaraskan berbagai aspek kegiatan diseminasi inovasi pertanian dengan program lembaga-lembaga terkait lain,d)     melakukan pendekatan secara intensif kepada lembaga-lembaga eksternal terkait (a.l. Dinas Pertanian, Bakorluh, Bapeluh, BPP) untuk meningkatkan dukungan pada kegiatan diseminasi  BPTP,
  13. e)     membangun sinergi dengan satuan-satuan lain lingkup Badan Litbang Pertanian.
  14.  3.      Perlu ada latihan-latihan yang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan personil BPTP dalam:
  15. a)     kegiatan komunikasi secara umum,
  16. b)     perencanaan dan penggarapan berbagai format kemasan pesan diseminasi,
  17. c)      evaluasi efektivitas kegiatan diseminasi. 
  18.  C.    Workshop Di Tingkat BPTP  
  19. Pelaksanaan workshop memberikan dukungan terhadap FMA seperti yang terlihat dalam Tabel 1. di bawah
  20. Tabel 1. Dukungan Workshop dan Lokakarya terhadap Pemberdayaan Petani 
    NoKegiatanTujuanTarget Indikator keberhasilan
    1Workshop Untuk Meningkatkan Keterkaitan Antara peneliti, penyuluh dan petani1. Meningkatkan komunikasi antara petani, penyuluh, dan peneliti dalam penerapan teknologi2. Menjaring umpan balik kebutuhan teknologi petani dan media informasi yang efektif Terjadi kesepahaman dengan berbagai pihak di daerah tentang sistem penyampaian hasil penelitian dan umpan balik dari dan ke pengguna akhir.
    2Workshop Koordinasi Pelaksanaan FMA di Kabupaten Menyamakan persepsi tentang FMA ideal yang akan menjadi acuan  bagi pengembangan FMA contoh Sinkronisasi  pelaksanaan FMA dengan kegiatan BPTPTerbangunnya jejaring kerja yang lebih baik antara BPTP dengan para pihak di daerah, sehingga dukungan BPTP terhadap FMA bisa maksimal.
      
  21. III.    RENCANA TINDAK LANJUT 
  22. 1.   Semua BPTP segera menghitung dengan baik pencapaian target kegiatan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Selanjutnya seluruh kegiatan yang dilakukan BPTP bermuara pada pencapaian target, yaitu peresentase FMA yang menggunakan inovasi BPTP atau Badan Litbang serta semakin besarnya komponen anggaran BPTP yang berasal dari anggran non APBN/APBD. Hasil perhitungan indikator pencapaian target disampaikan ke BBP2TP paling lambat 8 Desember 2009.
  23. 2.   Dari perkiraan pencapaian target tersebut dilakukan analisis penyebab tercapainya/tidak tercapainya target, serta rencana pemecahan masalah, dalam arti agar target dapat dicapai.
  24. 3.   Terkait dengan pembiayaan kegiatan, agar BPTP segera melakukan analisis penyebab rendahnya penyerapan anggaran dan mengusulkan perbaikan komposisi pengganggaran ke depan, dengan sasaran untuk lebih cepat dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Hasil analisis ini juga diharapkan diterima BBP2TP paling lambat pada tanggal  8 Desember 2009.
  25. 4.   BBP2TP segera membuat dan memperbanyak panduan FSA yang lebih operasional sifatnya untuk tingkat penyuluh lapangan. Bahan ini diharapkan dapat dikirim ke BPTP pada Januari 2010.5.   BPTP bersama BBP2TP segera membuat panduan dalam menilai efektivitas media diseminasi yang dibuat dan disampaikan kepada pengguna. Dengan panduan ini BPTP bisa menilai efektivitas media yang dihasilkan dan upaya perbaikan ke depan.
Last Updated ( Wednesday, 02 December 2009 )
 
< Prev   Next >

Jejak Pendapat
Bagaimana Pendapat anda tentang Website ini?
 

Image
 
GANDARIA
 
Highlight
orasi
Serba Serbi KRPL
UPBS
JPPTP
Produk
Alsintan
Agenda Kegiatan
« < October 2014 > »
S M T W T F S
28 29 30 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 1
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1100
mod_vvisit_counterYesterday2541
mod_vvisit_counterThis week9532
mod_vvisit_counterThis month100001
mod_vvisit_counterAll2396414

Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) ©2009
Jl. Tentara Pelajar No. 10 Bogor 16114 Indonesia
Telp. (0251) 8351277 Fax. (0251) 8350928 E-mail: bbp2tp@litbang.deptan.go.id