18January2018

You are here: Beranda >> Berita >> Info Aktual >> Kepri Kembangkan Model Lumbung Pangan Wilayah Perbatasan
bannerslider
bannerslider3

Berita Terkini

Kepri Kembangkan Model Lumbung Pangan Wilayah Perbatasan

Sebagian besar wilayah perbatasan di Indonesia masih merupakan daerah tertinggal dengan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi yang masih sangat terbatas. Pandangan di masa lalu bahwa daerah perbatasan merupakan wilayah yang perlu diawasi secara ketat karena merupakan daerah yang rawan keamanan telah menjadikan paradigma pembangunan perbatasan lebih mengutamakan pada pendekatan keamanan dari pada kesejahteraan. Hal ini menyebabkan wilayah perbatasan di beberapa daerah menjadi tidak tersentuh oleh dinamika pembangunan. 

Provinsi Kepulauan Riau  merupakan daerah perbatasan yang langsung perbatasan dengan Negara lain seperti Malaysia,  Singapura, Vietnam dan Kamboja dengan jumlah Penduduk mencapai 1.679.163 jiwa (BPS 2011) berarti diproyeksikan kebutuhan beras mencapai 230.045 ton. Sementara produksi beras baru mencapai 747.6 ton dengan rata-rata produksi kurang dari 3 ton/ha (BPS 2011), berarti Provinsi Kepulauan Riau masih kekurangan beras sebanyak  229.297 ton/tahun, untuk memenuhi kekurangan beras  tersebut biasanya didatangan dari luar Provinsi dan negara tetangga. Mengingat tingginya biaya transportasi untuk mensuplay kebutuhan pangan  di Kepulauan Riau, upaya yang dilakukan pemerintah daerah adalah menciptakan  sentra-sentra pangan sehingga nantinya diharapkan setiap pulau  tidak lagi mendatangkan kebutuhan pangan dari luar provinsi maupun negara tetangga.   

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kepulauan Riau telah melakukan kajian pengembangan model lumbung pangan wilayah perbatasan di  Kabupaten Bintan,  Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna,  Kabupaten Anambas Kota Batam dan Kabupaten Lingga. Komoditasnya meliputi padi, hortikultura (pisang, bawang merah, papaya, cabai, salak, nenas) dan  perkebunan (gambir, lada).  Akhir Desember yang lalu, peneliti BBP2TP melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan perbatasan tersebut, untuk memperoleh output capaian kegiatan serta memberikan arahan untuk langkah selanjutnya . 

Target kegiatan perbatasan adalah tanam padi 10 hektar di Desa Bukit Langkap, Kec. Lingga Timur, Kab. Lingga. Sampai saat ini sudah tercapai tanam seluas 4,5 hektar dan masih akan bertambah. Teknologi yang diterapkan adalah aplikasi bahan organik, kapur, pengendalian OPT, sistem jajar legowo, dan manajemen air.  Di Kabupaten Karimun, dilaksanakan percontohan budidaya padi dilakukan di seluas lahan 6 ha. Teknologi yang diterapkan adalah aplikasi pupuk anorganik bahan organik, kapur, pengendalian OPT, sistem jajar legowo, dan manajemen air. Hal yang sama dilakukan di Kabupaten Bintas seluas 3 ha. Teknologi yang diterapkan adalah aplikasi pupuk anorganik bahan organik, kapur, pengendalian OPT, sistem jajar legowo, dan manajemen air.  Untuk komoditas hortikultura, dilakukan pengembangan salak sari intan di Kabupaten Bintan. Sampai saat ini telah ditanam 2,7 ha di 3 desa. Sekitar 0,5 ha tanaman salak yang ditanam tahun 2015 akhir telah berbuah. Teknologi inovasi yang diperkenalkan adalah VUB, Teknik perbanyakan bibit, dan budidaya salak.  

Kepulauan Riau masih terus memantapkan pengembangan model lumbung pangan di kawasan perbatasan melalui penerapan inovasi teknologi Balitbangtan di berbagai sektor. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian kontinue melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan di daerah perbatasan Kepri tersebut. (RPY)

 

Share this post

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn